Pengalaman Saya Salah Mengelola Keuangan

Image for post
Image for post

Di usia 20 tahun adalah usia dimana saya pertama kali mendapatkan honor dari pekerjaan saya. Dulu saya ingat, saya mendapatkan pekerjaan untuk mendesain ulang sebuah situs pemerintahan.

Saat itu saya dibayar sekitar Rp 3 juta, jumlah yang sangat besar ketika itu. Tapi sayangnya, tidak sampai seminggu uang tersebut menguap tanpa sisa.

Perlahan-lahan, job saya semakin berkembang. Ditambah lagi insting digital marketing saya makin terasah. Saya mulai mendapatkan pundi-pundi rupiah dari berbagai sumber. Jadi secara otomatis pendapatan saya semakin mantap dari bulan ke bulan.

Lagi-lagi semua uang itu tidak tersisa sepeserpun. Entah kemana uang itu menguap.

Tahun 2015 keatas, dimana usia saya saat itu sekitar 24 tahun, menjadi tahun yang begitu fantasi buat saya. Saya mampu mengantongi banyak pendapatan yang bersumber dari internet. Tapi momen itu tidak saya manfaatkan dengan baik, sehingga banyak uang yang menguap secara percuma.

Kesalahan yang sama masih saya perbuat.

Tidak ada niat untuk berubah, bahkan setelah menikah pun saya masih menghamburkan uang untuk yang sifatnya konsumtif.

Kebiasaan saya dan istri sebelum tidur, sering bertukar pikiran tentang hal apapun. Baik itu tentang teknologi, film, medis, apapun itu. Jadi, malam itu kami coba diskusi tentang pengeluaran kami yang menghabiskan uang Rp 2 juta hanya dalam seminggu. Bukan untuk membeli barang, tapi habis untuk makan, jajan dan nongkrong di cafe tiap malam.

Jauh dari itu, ketika masih lajang saya bahkan juga pernah menghabiskan uang Rp 20 juta hanya dalam waktu sebulan.

Nah, berawal dari diskusi malam itu mulailah kami tersadarkan bahwa ada yang salah dengan pengelolaan keuangan kami. Kalau terus berlanjut seperti itu, maka kemungkinan besar dimasa depan kami akan terus bermasalah dengan keuangan.

Sedikit demi sedikit mulai mencari apa yang menjadi kesalahan kami. Ya, kami temukan dimana letak kesalahannya.

Kami mulai merasa tidak ada visi misi kedepan, belum mampu meninggalkan kebiasaan buruk yang menghabiskan uang, dan tidak pernah berpikir untuk belajar berinvestasi. Yang lebih parah, kami tidak bisa membedakan antara “kebutuhan” dan “kemauan” ketika membeli sesuatu.

Terlalu jauh bicara soal investasi, bahkan tabungan pun tidak punya. Seolah-olah, ketika gaji masuk, maka wajib hukumnya untuk dihabiskan saat itu juga.

Selama bertahun-tahun saya telah salah mengatur keuangan, saya tidak mau belajar, merasa terlalu dini berpikir untuk berinvestasi.

Tahun 2016 kebawah merupakan masa yang begitu kelam dalam manajemen finansial keluarga saya. Tidak terpikirkan sama sekali untuk mengatur keuangan sebaik mungkin.

Pengalaman bisa menjadi guru terbaik. Saya menyesal karena terlambat menyadari kalau saya berada diluar jalur. Namun, tidak ada kata terlambat untuk memulai kembali.

Maka pada akhir tahun 2016, saya dan istri sepakat mulai belajar bagaimana mengelola keuangan yang baik. Kami bahkan komitmen untuk membeli buku tentang finansial dan investasi tiap bulannya.

Bagi anda sedang membaca tulisan saya, selalu ingat bahwa generasi ini sangat dekat dengan sifat konsumtif. Media sosial sangat berperan aktif meningkatkan kelompok usia milenial pada gaya hidup konsumtif. Namun dibalik semua itu, media sosial juga memiliki peran positif dalam edukasi finansial. Kebijaksanaan sangat diperlukan dalam bermedia sosial.

Belajarlah dari kesalahan di usia muda saya, mulailah berpikir untuk berinvestasi, karena dengan berinvestasi artinya anda sedang menyelamatkan masa pensiun anda serta keluarga anda dari beban finansial di masa depan.

Written by

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store