Saya Tidak Berinvestasi pada Cryptocurrency

Image for post
Image for post

Cryptocurrency (mata uang crypto) adalah mata uang digital, ada juga beberapa orang menyebutnya sebagai aset crypto. Sebagian orang mungkin belum pernah mendengar kata crypto/cryptocurrency. Tapi kalau Bitcoin, saya pikir semua orang pasti pernah mendengarnya.

Crypto sangat banyak jenisnya, salah satu jenis yang terkenal dan memiliki market cap terbesar adalah Bitcoin (BTC).

Saya tidak tahu pasti berapa jumlah crypto yang ada, mungkin ratusan, atau bahkan ribuan. Cuma tidak semua crypto diperdagangkan di crypto exchange. Kita ambil contoh crypto exchange Indodax yang hanya memperdagangkan sekitar 30an jenis crypto.

Semua orang dapat dan diperbolehkan membuat crypto. Saking mudahnya dibuat, membuat saya jadi takut dan tidak mempercayai aset saya dalam bentuk crypto.

Saya ingin sedikit bercerita bagaimana mata uang berevolusi dan dipercayai oleh penggunanya.

Metode perdagangan yang pertama kali dikenal oleh umat manusia (metode tertua) adalah dengan sistem barter, dimana barang ditukar dengan barang. Uniknya, di Indonesia masih ada masyarakat yang menggunakan sistem barter, tepatnya di Lamalera NTT, desa yang juga dikenal sebagai pemburu ikan paus, saya nonton dokumenternya expedisi Indonesia Biru di Youtube.

Metode ini digunakan hingga masa dimana adanya titik jenuh antara kedua pelaku dagang yang menilai sistem barter ini sangat tidak efektif dan terbatas.

Barter akan bekerja bila kedua pelaku melakukan barter barang yang sama-sama dibutuhkan, misalnya si A memiliki ikan untuk dibarter dengan si B yang memiliki beras. Barter sulit terjadi bila barang si A tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh si B. Dari titik jenuh inilah muncul ide mencari sebuah alat pembayaran yang diterima oleh semua orang.

Dari situlah lahirnya metode fabrikasi yang dimana tiap wilayah memiliki alat pembayaran masing-masing. Ada yang terbuat dari logam dan ada pula dari keramik.

Lambat laun, logam emas menjadi salah satu alat pembayaran yang paling banyak diakui di hampir di seluruh belahan bumi. Penyebab salah satu emas menjadi alat bayar universal dikarenakan andil dari para pelayar yang berdagang di kala itu.

Singkat cerita, Inggris kala itu memperkenalkan sebuah lembaran (sertifikat) yang fungsinya sebagai bukti kepemilikan sebuah emas dan lembaran tersebut dapat diperdagangkan. Tujuan dibuatkan lembaran kepemilikan emas ini agar mudah dibawa kemana-mana. Lembaran itu yang akhirnya menjadi cikal bakal uang kertas.

Uang kertas inilah yang akhirnya menjadi alat pembayaran yang berlaku sampai saat ini.

Dari dulu hingga sekarang uang kertas menginpretasikan nilai emas dibelakangnya. Makna persepsinya, 1 gram setara dengan 1 juta Rupiah. Maka dari itu, jumlah uang kertas yang beredar semestinya harus sesuai dengan value emas yang ada. Selain emas, sebuah negara juga menetapkan valas bagian dari value yang dapat dinilai sebagai pedoman jumlah uang yang boleh di edarkan.

Jadi jaman dulu pada dasarnya mempercayakan uang karena adanya jaminan emas dari nilai uang tersebut, sehingga munculah uang sebagai alat pembayaran. Dari sini kita bisa melihat underlying asset dari sebuah uang adalah emas, ditambah dengan pengakuan uang sebagai alat bayar telah menjadi hukum (dalam undang-undang) menjadikan uang semakin diakui.

Dalam mengontrol mata uang, ada banyak pihak yang terlibat didalamnya. Salah satunya bank sentral yang mengatur peredaran dan kebijakan moneternya.

Setelah era barter, logam dan uang kertas, baru lahirlah cryptocurrency. Nah, konsepnya juga sama. Crypto dianggap berharga bila ada penggunanya, ada underlying asset (poin ini sulit dijelaskan), ada pengakuan/kepercayaan dari orang lain atau lembaga lain dan/atau hukum yang mengaturnya.

Misalnya saya membuat satu crypto bernama "ABC", volume beredar 100 ABC, dengan value dasar 1 ABC = 1000 rupiah. Bila ada 10 orang yang mengakui ABC dan masing-masing membeli 10 ABC, berarti tiap orang membeli di harga Rp. 10.000.

Kenapa volume 100? itu karena saya tentukan sendiri, tidak ada ketentuan resminya. Kenapa 1 ABC saya hargai Rp. 1000? tidak ada ketentuan hukumnya, namun besar-kecilnya mempengaruhi likuiditas crypto. Harga 1 ABC dapat berubah di pasar sekunder sesuai dengan supply-demand. Makin banyak pengguna maka harga tentu jadi naik (perilaku pasar), begitupun sebaliknya.

Jika skenarionya begitu, maka crypto ABC telah diakui oleh 10 orang. Nah, disini kita bisa melihat berharga tidaknya crypto tergantung seberapa besar penggunanya.

Jadi, saya pribadi menganggap aset crypto belum layak dijadikan media investasi. Alasan saya seperti ini:

Pertama, meski perdagangan crypto di Indonesia telah legal (dibawah Bappebti), namun tidak semua orang mengakui crypto sebagai identitas aset. Berbeda dengan emas yang semua orang di belahan dunia manapun mengakuinya sebagai aset.

Kedua, sangat fluktuatif. Naik turunnya harga tergantung supply-demand di market exchange. Nah, karena sering kali tidak jelas (faktor intrinsik sulit dinilai) penyebab supply-demand, maka saya tidak mau menyimpan aset dalam bentuk crypto.

Ketiga, spekulatif. Karena tidak ada aset yang dapat dinilai, tidak ada laporan yang dapat dianalisis dan tidak ada value yang jelas, membuat crypto adalah media yang sangat spekulatif. Harga naik bila jumlah orang yang memberi pengakuan (dengan cara menukarkan mata uang lain ke crypto) terhadap crypto meningkat, harga turun bila banyak orang yang melepas cryptonya ke market.

Keempat, risiko sulit di mitigasi. Ketiga alasan diatas membuat risiko crypto benar-benar sulit di mitigasi. Ini faktor terbesar yang membuat saya tidak berani menyimpan aset di crypto.

Written by

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store