Tidak Ada Istilahnya Saham Gorengan

Image for post
Image for post

Istilah saham gorengan sudah lama muncul, bahkan sebelum saya masuk ke pasar modal, istilah saham gorengan sudah sering sekali saya dengar.

Kalau anda mengikuti berbagai forum saham, anda akan sering membaca komentar “awas saham gorengan”, “awas nanti kolesterol”, dan istilah memalukan lainnya.

Banyak orang beranggapan saham gorengan sering dicirikan dengan saham kapital pasar yang kecil dan sering dinaik-turunkan oleh kekuatan modal bandar.

Saya sama sekali tidak sepakat dengan itu.

Untuk semua perusahaan tercatat di pasar modal, seharusnya kita memberikan penghargaan tertinggi bagi mereka. Karena tidak semua perusahaan mampu atau berani IPO. Terlepas dari plus minus profitabilitasnya.

Kapital market yang kecil bukan berarti saham tersebut tidak layak dibeli, dan bukan berarti itu adalah saham yang harus dihindari dan ditakuti. Seorang investor harusnya tidak hanya menilai dari besaran kapital marketnya saja. Sangat dangkal rasanya bila hanya itu penilaiannya.

Bagi saya, selama EPS positif, selama profitabilitasnya positif, selama liabilitas bagus dan memiliki valuasi yang murah, maka saya tidak pernah segan untuk menjadikan portofolionya. Kapital market tidak berarti banyak buat saya.

Selama kita berpegang pada fundamental yang baik, maka bandar tidak akan bisa mencuri uang dari kita.

Nah, yang sering terjadi adalah ketika sebuah saham dengan kapital market yang kecil memiliki fundamental yang tidak baik, sekelompok bandar mampu memainkan harga, yang terjadi adalah pelaku pasar banyak yang terpancing untuk ikut arus.

Arus liar tersebut sering sekali susah berhenti dan malah menjadi bola salju yang terus menggelembung.

Nah, disini terbagi menjadi dua kelompok besar pasar modal, yakni mereka yang ikut arus dan mereka yang tidak ikut arus. Bila bola saljunya habis menggerus yang ikut arus, tinggal sisi yang tidak ikut arus, maka sampailah pada titik jenuh dan harga saham pun berangsur turun ke harga semula. Padahal ditengah jalan, bandar sudah keluar dari arena.

Kasus seperti ini sudah ada sejak dulu dan semua pelaku pasar modal sudah sangat paham dengan pergerakan saham seperti ini. Sayangnya walau mereka paham, tetap saja psikologis mereka memaksa untuk ikut arus.

Nah bukanlah kesalahan saham, janganlah meng-kambing hitamkan saham sebagai saham gorengan, namun perilaku investornya saja yang sering kali tidak rasional.

Written by

Doctor of Medicine (MD) | Civil Servant | Stock Investor | Digital Entrepreneur

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store